Hadirnya ke dunia ini, tidak ingin hanya menjadi tua dan layu. Pohon Pisang ingin bisa memberi manfaat sebelum ajal mendatangi nya. Tak sekedar itu, ia pun mempersiapkan generasi penerusnya sebelum ia mati. Tunas – tunas muda yang tumbuh melanjutkan kemanfaatan pohon pisang, kepada siapa saja yg memetik buahnya, atau mengambil daun nya, atau memanfaatkan batang nya.. Itulah pohon pisang bagaimana dengan manusia? Makhluk yang Allah Ciptakan menjadi Pemimpin di muka bumi ini, yang Merupakan Makhluk Mulia. Diberikan-Nya Akal dan Hati, harus nya bisa berbuat lebih dari pohon pisang. Pertanyaan nya, mengapa terjadi sebaliknya??
Allah Sebaik-baik Pewaris (Khairil Waritsin)
Sadarkah diri kita bahwa kita telah memperoleh “Warisan” dari Allah Ta’ala di bumi ini??
“Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak . Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu”. (AlAhzab[33]:27).
Tak hanya bumi, DIA pun mewariskan Langit utk kita, dan segala apa yang ada didalamnya… Tak hanya itu, DIA pun mewariskan kitab suci yang merupakan bentuk Kasih Sayang NYA pada Hamba Nya…
Karena DIA tak ingin hamba-Nya tersesat dalam beribadah kepadaNya.. Bahkan Allah memberikan bonus warisan yaitu syurga. “Itulah syurga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa” (Maryam[19]:63). Itulah Tuhan yang memiliki sifat Sebaik-baik Pewaris.
“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Pewaris Yang Paling Baik”.(Al Anbiya’[21]:89
Yang Rasulullah SAW wariskan
Lalu, bagaimana dengan Kekasih Allah Rasulullah SAW? apa yg Beliau wariskan? Saat menjelang ajal, beliau tidak meninggalkan banyak harta kepada keluarga dan ummat nya, Masjid Nabawi pun adalah masjid sederhana pada saat itu.. Tak berdinding, berlantai tanah, dan beratap pelepah kurma…
Meski begitu, ternyata Rasulullah telah mewariskan “SESUATU” yg nilai nya lebih dari dunia dan seisinya. Apakah itu? Warisan itu adalah sistem dan tata nilai kehidupan yang paripurna (lengkap), yang terangkum dalam al-Qur’an dan Sunnahnya...
“Aku Tinggalkan untuk kalian DUA perkara.. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang pada keduanya, yaitu Kitabullah (Qur’an) dan Sunnah Rasulullah”. (HR.Muslim)
Inilah warisan terbesar Rasulullah SAW, yang diterapkan oleh Muslimin saat itu, hingga beberapa generasi, dan menjadikan Bangsa Arab yang awalnya Jahiliyyah, tidak diperhitungkan, menjadi Bangsa yang besar dan dikagumi sekaligus menjadi pusat dunia. Tak ada satu imperium pun yang ada didunia ini sepanjang sejarahnya mampu mengalahkan sistem dan tata nilai yang diwariskan oleh Rasulullah SAW...
Apa yang kita wariskan?
Pepatah mengatakan, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan namanya… Pertanyaan nya, apakah nama baik itu bisa didapat dengan gratis???
NAMA BAIK HANYA MELEKAT KEPADA ORANG BAIK, YANG KEBAIKAN NYA DAPAT DIRASAKAN MANFAAT NYA OLEH ORANG BANYAK…
Semakin banyak orang merasakan manfaat dari nya, semakin berkembang nama baiknya, contohnya para pahlawan
Rasulullah pun berpesan, “Jika Seorang anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah segala amal kebaikan nya, kecuali tiga perkara, yakni sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, dan anak-anak sholeh yg mendoakan orang tuanya”. (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, dan Nasa’i)
Para Ulama menjelaskan, sedekah jariyah adalah wakaf yang diniatkan untuk kebaikan, dan dapat terus dirasakan hingga sepeninggal nya. Misalnya, wakaf tanah, masjid, madrasah, sekolah, rumah hunian, kebun, kitab yang berguna, sumur dan sumber air lain (bak dan kran-kran air).
Mewariskan ilmu bisa dengan menjadi guru, penemu, atau penulis. Lalu muridnya pun belajar dan juga mengajarkan nya kepada orang lain. Tentunya dalam lingkup kebaikan, bukan seperti ilmu hitam atau perbintangan dsb. Contoh : Imam Bukhari
Anak yang sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dapat terus mengalirkan kemanfaatan untuk orang tuanya, walaupun orang tua nya telah wafat. Berkat do’a-doa mereka dan juga sedekah yang mereka lakukan atas nama orang tua mereka. Ingin Jadi Anak Sholeh??? Salah satu teladan anak sholeh ada pada diri Nabi Ismail.
Bayangkan saat ajal datang menjemput kita, saat tak kita sudah tak berdaya, keluarga kita pun berkumpul mengelilingi kita.. Apa yang akan kita tanyakan pada mereka sebagai pesan terakhir??
Coba kita lihat Nabi Ya’qub As. Saat beliau berada pada peristiwa tersebut..
Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqarah[2] : 133)
Akhlak dan Karakter Pewaris
Sebagai seorang Muslim, kita diperintah oleh ALLAH SWT agar senantiasa beriman dan beramal sholeh. Perintah ini selain utk kebaikan diri sendiri, jg utk manusia setelahnya, yakni dgn mewariskan kebaikan-kebaikan tersebut. Berangkat dari prinsip ini, setidaknya ada beberapa nilai kebaikan yang bisa diwariskan, yaitu :
1. Jadilah Pribadi yg baik..
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Ar Ra’d[13]:11)
Harus MAU untuk merubah diri menjadi lebih baik, karena ALLAH pun tak akan merubah keadaan kita jika kita tidak MAU berubah. Pun menjadi keharusan untuk memiliki dan mengamalkan semua nilai kebaikan dunia & akhirat, yakni Aqidah, Ibadah, Akhlaq, Fikrah (jama’ah), fisik, manajemen waktu, keseriusan dan keistiqomahan.
2. Wujudkan Rumah Tangga yang Islami
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At Tahrim[66]:6)
3. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali ‘Imran[3]:110)
Dengan cara benar, tahapan nya benar, materinya benar, informasinya benar, perintahnya benar dan konsisten. Lebih dari itu, KETELADANAN lah yg paling berpengaruh.
4. Ambillah dan Wariskan lah Ilmu
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan ; “ Para Nabi tidak mewariskan dirham dan dinar (harta), akan tetapi yg mereka wariskan adalah ILMU. Barangsiapa mengambil warisan ilmu tsb, sungguh dia telah mengambil bagian yg banyak dari warisan Para Nabi. Jika engkau termasuk dari ahli ilmu engkau telah mewarisi dari Rasulullah SAW, dan ini termasuk keutamaan yang paling besar. (Kitabul ‘Ilmi, hlm 16)
5. Bangunlah Generasi yg Sholeh
Jumat, 02 Maret 2012
Sekeping Hati
Seketul daging. Terisi di dalamnya dengan seribu perasaan yang kadang-kadang sukar untuk diartikan. Manusia.. Ramai yang lemah karenanya. Memilikinya tanpa sadar akan pengaruhnya. Kenapa ramai yang suka menjadi hambanya? Menurut segala kemauannya tanpa bertanya pada akal yang lebih sempurna.
Hati. Segalanya bermula dari situ. Hati yang penuh dengan kasih dan sayang, hati yang penuh dengan rasa benci dan dendam, hati yang senantiasa cintakan kedamaian, hati yang senantiasa inginkan kepuasan. Cantik dan buruknya perilaku seseorang bergantung pada niatnya dan ketulusan hatinya.
Betapa sukar untuk menjaga sekeping hati... Pernah kita menjaga hati dengan sebaiknya? Atau kita sering mencacatkan hati dengan kerakusan hawa nafsu semata? Manusia mampu mencipta nama segah mungkin. Mampu melakar rangkaian teknologi yang canggih. Mampu merungkai rahasia alam yang sukar untuk ditembusi. Namun mengapa manusia ini khilaf dalam menjaga sekeping hati nan suci?
Hati seringkali dipenuhi dengan hasad dan dengki, benci dan dendam yang tidak terperi sehingga mampu mempengaruhi tangan dan kaki bergerak, berfungsi tanpa mengikut rentak akal yang diberi. Mengapa sanggup membiarkan hati yang penuh dengan amarah ini menyentuh sekeping hati yang penuh dengan ketulusan kasih sayang yang suci? Puaskah hatimu mencerobohi kamar hati dengan kerakusan hawa nafsu sendiri? Puaskah?
Karena hati, ramai yang tersungkur, rebah menjadi hamba duniawi. Apabila diri dipuji-puji, hati kembang tidak terperi. Mencipta keangkuhan dalam hati dan merasakan akulah yang terhebat di muka bumi ini. Melainkan sayap kesombongan sehingga terlupa untuk berpijak di bumi.
Lupa pada arti kesyukuran atas nikmat yang telah Allah pinjamkan. Hanya kerana rintihan hati yang teruji dengan pujian yang menggunung tinggi. Apabila ditegur akan kesilapan diri, dengan angkuh dan sombongnya menolak kritikan sehingga menampakkan kekejian di hati. Tertawalah si Syaitan dan Iblis karena berjaya menghunuskan pedang di hati manusia yang 'mati' dari cahaya Illahi. Tidakkah kita sedar semua ini?
Ada segelintir manusia yang merasakan dirinya sudah cukup hebat di sisi Ya Rabb. Solatnya, zikirnya, ibadahnya dirasakan sungguh cukup sempurna dan mampu melintasi titian sirat dengan mudah. Sehingga menciptakan segelumit rasa bangga di dalam hatinya kerana menyangka diri tergolong dalam golongan mukmin. Jangan!
Jangan pernah berprasangka seperti ini kerana hati manusia sangat rapuh. Sangat-sangat rapuh. Allah mengetahui sejauh mana keikhlasan hamba-Nya dalam mencari cahaya cinta-Nya. Rasulullaah S.A.W sendiri yang sentiasa dilindungi Allah, yang telah dijanjikan Allah syurga Firdausi tidak pernah walau sedetik pun meninggi diri memperkatakan amalan yang dilakukan sehari-hari.
Malahan Nabi kita ini beribadah sehingga bengkak kaki Baginda hanya untuk menuntut takwa dan kasih sayang Allah S.W.T. Maka, mengapa kita yang hanya hamba-Nya yang sangat-sangat kerdil merasa bongkak dan angkuh seperti itu? Adakah kita akan merasa aman kerana secara zahirnya kita soleh tetapi hati kita sebenarnya terselingkuh di kemudian hari? Tidakkah kita takut dengan amaran Allah?
Dari sekeping hati yang suci mampu berubah menjadi onar dan duri. Hati pada asalnya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang agar kita saling menyayangi dan melindungi sesama sendiri tetapi apa yang telah terjadi pada detik ini? Kerana dendam kita bermusuhan. Kerana dengki kita mencipta pergaduhan. Kerana marah, kita sanggup meleraikan persahabatan. Rosak binasalah hati akhirnya membawa kemusnahan pada diri sendiri.
Inilah persoalan yang membungkam pemikiran hati ini. Perihal penyakit hati yang semakin meruncing yang menggugat keimanan dan melunturkan ketakwaan. Ukhuwah yang terjalin bisa terlerai hanya kerana terpedaya dengan bisikan hati yang senantiasa di cucuk dengan hasutan Iblis.
Jangan gunakan kebencian dan kedengkian karena apa pun kebaikan akan bernilai negatif di mata para pendengki. Jangan dibiarkan hati ini terus bernanah, membusuk sehingga kebusukan itu dapat dihidupkan oleh orang lain. Didiklah, tuntunilah hati ini dengan madah dan kata Allah.
Bersihkan hati ini dari kata yang kelam lagi suram. Jauhkanlah hati dari nafsu dan dendam. Di khawatiri kita terus hanyut dalam jalan yang suram sedangkan jalan yang terang luas terbentang tidak dapat dilihat hanya kerana hati yang hitam penuh kegelapan. Semoga kita terlindung dari kekejian hati. Amin.
Rasulullah Saw Bersabda:
Ketahuilah bahwa di dalam dada manusia ada Seketul Daging, apabila ia baik, baiklah badan seluruhnya, apabila ia rusak, rusaklah seluruhnya. Ketahuilah Seketul Daging itu adalah Hati. [HR Bukhari dan Muslim]
Hati. Segalanya bermula dari situ. Hati yang penuh dengan kasih dan sayang, hati yang penuh dengan rasa benci dan dendam, hati yang senantiasa cintakan kedamaian, hati yang senantiasa inginkan kepuasan. Cantik dan buruknya perilaku seseorang bergantung pada niatnya dan ketulusan hatinya.
Betapa sukar untuk menjaga sekeping hati... Pernah kita menjaga hati dengan sebaiknya? Atau kita sering mencacatkan hati dengan kerakusan hawa nafsu semata? Manusia mampu mencipta nama segah mungkin. Mampu melakar rangkaian teknologi yang canggih. Mampu merungkai rahasia alam yang sukar untuk ditembusi. Namun mengapa manusia ini khilaf dalam menjaga sekeping hati nan suci?
Hati seringkali dipenuhi dengan hasad dan dengki, benci dan dendam yang tidak terperi sehingga mampu mempengaruhi tangan dan kaki bergerak, berfungsi tanpa mengikut rentak akal yang diberi. Mengapa sanggup membiarkan hati yang penuh dengan amarah ini menyentuh sekeping hati yang penuh dengan ketulusan kasih sayang yang suci? Puaskah hatimu mencerobohi kamar hati dengan kerakusan hawa nafsu sendiri? Puaskah?
Karena hati, ramai yang tersungkur, rebah menjadi hamba duniawi. Apabila diri dipuji-puji, hati kembang tidak terperi. Mencipta keangkuhan dalam hati dan merasakan akulah yang terhebat di muka bumi ini. Melainkan sayap kesombongan sehingga terlupa untuk berpijak di bumi.
Lupa pada arti kesyukuran atas nikmat yang telah Allah pinjamkan. Hanya kerana rintihan hati yang teruji dengan pujian yang menggunung tinggi. Apabila ditegur akan kesilapan diri, dengan angkuh dan sombongnya menolak kritikan sehingga menampakkan kekejian di hati. Tertawalah si Syaitan dan Iblis karena berjaya menghunuskan pedang di hati manusia yang 'mati' dari cahaya Illahi. Tidakkah kita sedar semua ini?
Ada segelintir manusia yang merasakan dirinya sudah cukup hebat di sisi Ya Rabb. Solatnya, zikirnya, ibadahnya dirasakan sungguh cukup sempurna dan mampu melintasi titian sirat dengan mudah. Sehingga menciptakan segelumit rasa bangga di dalam hatinya kerana menyangka diri tergolong dalam golongan mukmin. Jangan!
Jangan pernah berprasangka seperti ini kerana hati manusia sangat rapuh. Sangat-sangat rapuh. Allah mengetahui sejauh mana keikhlasan hamba-Nya dalam mencari cahaya cinta-Nya. Rasulullaah S.A.W sendiri yang sentiasa dilindungi Allah, yang telah dijanjikan Allah syurga Firdausi tidak pernah walau sedetik pun meninggi diri memperkatakan amalan yang dilakukan sehari-hari.
Malahan Nabi kita ini beribadah sehingga bengkak kaki Baginda hanya untuk menuntut takwa dan kasih sayang Allah S.W.T. Maka, mengapa kita yang hanya hamba-Nya yang sangat-sangat kerdil merasa bongkak dan angkuh seperti itu? Adakah kita akan merasa aman kerana secara zahirnya kita soleh tetapi hati kita sebenarnya terselingkuh di kemudian hari? Tidakkah kita takut dengan amaran Allah?
Dari sekeping hati yang suci mampu berubah menjadi onar dan duri. Hati pada asalnya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang agar kita saling menyayangi dan melindungi sesama sendiri tetapi apa yang telah terjadi pada detik ini? Kerana dendam kita bermusuhan. Kerana dengki kita mencipta pergaduhan. Kerana marah, kita sanggup meleraikan persahabatan. Rosak binasalah hati akhirnya membawa kemusnahan pada diri sendiri.
Inilah persoalan yang membungkam pemikiran hati ini. Perihal penyakit hati yang semakin meruncing yang menggugat keimanan dan melunturkan ketakwaan. Ukhuwah yang terjalin bisa terlerai hanya kerana terpedaya dengan bisikan hati yang senantiasa di cucuk dengan hasutan Iblis.
Jangan gunakan kebencian dan kedengkian karena apa pun kebaikan akan bernilai negatif di mata para pendengki. Jangan dibiarkan hati ini terus bernanah, membusuk sehingga kebusukan itu dapat dihidupkan oleh orang lain. Didiklah, tuntunilah hati ini dengan madah dan kata Allah.
Bersihkan hati ini dari kata yang kelam lagi suram. Jauhkanlah hati dari nafsu dan dendam. Di khawatiri kita terus hanyut dalam jalan yang suram sedangkan jalan yang terang luas terbentang tidak dapat dilihat hanya kerana hati yang hitam penuh kegelapan. Semoga kita terlindung dari kekejian hati. Amin.
Rasulullah Saw Bersabda:
Ketahuilah bahwa di dalam dada manusia ada Seketul Daging, apabila ia baik, baiklah badan seluruhnya, apabila ia rusak, rusaklah seluruhnya. Ketahuilah Seketul Daging itu adalah Hati. [HR Bukhari dan Muslim]
Langganan:
Postingan (Atom)
