Studi Islam Al-Amin

Cerdas, Sholeh, Profesional

Kamis, 21 Juni 2012

Sandiwara langit 2



                                                                  BAPAKKU SANG JUARA


                                                     Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


     Ia betul - betul bapak juara. Begitulah yang kuyakini waktu kecil dulu. bukan tanpa alasan. Ia pekerja ulet luar biasa. benar benar workaholik. Jam setengah empat dini hari, saat kebanyakan orang di kampung kami berselimut sarung di kamar tidurnya, ia sudah bangun, menyiapkan semua hal yang ia anggap punya kaitan dengan kegiata bisnisnya. Waktu itu, tukang koran langganan kami ia wajibkan datang maksimal jam 4 dini hari, hampir 1 jam sebelum waktu subuh. Ia akan melahap berita - berita yang ia anggap perlu sebagai informasi, atau untuk mengasah naluri bisnisnya.
     Bapakku bukan berasal dari keluarga kaya. Bisnis yang dia jalankan juga bukan terbilang bisnis besar. Hanya beberapa toko material, 1 dealer sepeda motor, dan 4 toko pakaian yang tersebar di tiga pasar. Bapakku juga memiliki usaha konfeksi pakaian jadi yang lokasinya beliau buat tepat di samping kediaman kami. ketimbang bergerak di usaha besar dengan modal dari hasil meminjam. Itu prinsip bapkku dalam berbisnis.
     Usaha material didirikan bapakku belakangan, saat aku masih berusia 2 tahun. Seingatku justeru usaha material itulah yang memberi hasil paling banyak buat keluarga kami. Selain konfeksi pakaian jadi tentunya. Dimulai 1 toko material sederhana usahanya terus berkembang hingga akhirnya bapakku memiliki toko material besar, dengan tanah dan bangunan semuanya milih pribadi.
     Aku menyebut bapakku sebagai juara, bukan hanya karena ia seorang pekerja keras yang ulet dan tak mengenal lelah.. Bukan hanya karena ia seorang pedagang yang gigih dan berdedikasi tinggi. Tapi, karena prinsip - prinsip bisnisnya yang sangatku kagumi.
     Belakangan, sebagian besar dari prinsip - prinsip itu kudapatkan dalam bentang luas ajaran gamaku. Ternyata, meski tak terlihat agamis, dan banyak hal yang kusesali dari kehidupan keseharian bapakku itu, ia telah menerapkan banyak prinsip kebenaran yang ada dalam Islam yang justeru telah dilupakan banyak kaum muslimin.
        Pertama, Prinsip Kedisiplinan.
   
      ''Untuk bisa berhasil di dunia dagang, kita harus mengenal disiplin, melatih dan membiasakannya dalam kehidupan kita begitu ungkap bapakku suatu saat.
        Bapakku kerap mencontohkan hal - hal mudah yang dapat ku kenali dalam kehidupan keseharianku.
      "Untuk dikenal sebagai tetangga yang baik, kamu hatus terlebih dahulu dikenal sebagai tetangga. Dikenal, artinya kamu harus berinteraksi, bergaul dan mengenal para tentangga kamu. Semakin banyak yang kamu kenal, semakin pula kamu dikenal oleh banyak mereka. Ini kedisiplinan sederhana, dalam hubungan interaksi."
          Menarik sekali.
        "Kamu harus lebih sering terlihat oleh mereka, dan itu butuh kedisiplinan. Semakin kamu jarang terlihat, semakin kamu tak dikenal sebagai tetangga. Dikenal saja tidak, apalagi dipandang baik. Berdagang juga seperti itu. Kalau tak mampu menjaga disiplin dalam waktu, konsistensi pelayanan yang baik dan menjaga kualitas barang, siap - siap saja gulung tikar. Persainggan di dunia dagan itu hebat luar biasa anakku....."
        Kedua, Kejujuran.
        "Penjual barang haram seperti narkoba seperti narkoba saja membutuhkan orang jujur untuk membeli atau mengedarkan barang - barangnya. Kejujuran itu syarat mutlak dalam dagang...."
         "Pembeli yang kamu bohongi, akan mengiklankan kebohonganmu kepada banyak orang. Begitu juga sebaliknya. Kejujuranmu akan di iklankan secara gratis oleh para pelanggan yang merasa nyaman dan diuntungkan...."
           "Kamu bisa mendapatkan barang dengan harga jauh lebih murah, atau bahkan dengan pembayaran tertunda dalam waktu lama, hanya dengan modal kejujuran. Tapi, jangan terbuai oleh hutang. Ambil saja kesempatan membeli barang dengan harga semurah mungkin. Karena keuntungan sesungguhnya adalah dalam selisih saat membeli, bukan selisih saat menjualnya..."
              Luar biasa.
         Ketiga, Berbuat baik kepada orang lain.
          "Ini prinsip yang rumit. Kebanyakan pedagang bersikap pelit, dengan alasan ingin untung besar. Itu keliru. Dengan sedikit menurunkan harga, atau membuat harga tetap tapi menambah kualitas pelayanan, atau memberi harga tinggi dengan jaminan kepuasan pelanggan akan datang berduyun - duyun...."
              Dalam bahasa dagang, kata 'memberi' itu bisa berarti promosi..."
 
           Keempat, Kerja Keras.
       Bapakku tidak peduli dengan kampanye motivasi yang banyak tersebar di mana - mana, bahwa lebih baik bekerja cerdas daripada bekerja keras. Karena etika umum sangat menghargai pekerjaan keras. Orang yang bekerja cerdas tanpa bekejra keras adalah para pelamun, para pengkhayal yang hanya ingin senang tanpa banyak usaha. Itu prinsip bapakku semenjak dahulu.

         "Apa kalau sudah memiliki kemampuan bekerja cerdas seseorang tak perlu bekerja cerdas seseorang tak perlu bekerja keras? Nonsen. Orang yang berjualan saham juga bekerja keras setiap waktu di depan komputer dan internet. Bos -Bos perusahaan besar dunia juga nyaris kekurangan waktu untuk mengurus bisnis - bisnis raksasa mereka. Modal utama seorang pebisnis adalah kemampuan bekerja keras. Hal - hal lain itu sebagai tambahan saja...."
            Kelima, Memaafkan.
          "Di dunia usaha, kita harus mudah memaafkan orang. Jangan setiap kritikan kita anggap sebagai bukti permusuhan. Sebaik apapun pelayanan kita, selalu saja ada yang tidak menyukainya. Sebagus apapun barang kita jual, pasti ada yang mencelanya. Kita harus memandang setiap partner dagang dan para pelanggan kita sebagai sahabat. Untuk itu, kita harus memiliki lebih banyak stok ' maaf ' dalam diri kita...."
         Ternyata, tak hanya dalam kehidupan keseharian, dalam berdagang kita juga perlu menjadi pemaaf. Rupanya, semakin banyak orang yang berperilaku aneh, semakin kita banyak orang berperilaku aneh, semakin kita perlu bersahabatdngan mereka. Wajar, bila pedagang yang baik itu diganjar setumpuk pahala dalam ajaran agama kita.
             Keenam, Terus Belajar.

        Kata Bapakku, pedagang yang tak mau belajar dari kesalahannya, atau dari kesalahan orang lain adalah pedagang yang hanya ingin berjualan sementara saja. Apalagi, banyak hal yang harus terus dipelajari dalam dunia dagang. Tanpa mau belajar dan belajar, kita tak akan mungkin bisa mengikuti perkembangan dunia bisnis yang kian hari kian tak menentu.

         Masih kata bapakku, antara satu jenis bisnis dengan yang lain sering ada keterkaitan yang harus di pahami. Harga satu barang, kerap di tentukan oleh barang yang lain. Bila kita membuka sebuah usaha yang terkait dengan usaha lain yang sudah kita punya, berarti kita telah merangkai usaha yang akan kita mudah kenali seluk beluk dan dinamikanya setiap saat. Seperti berjualan bahan kain dan usaha konfeksi pakaian jadi...."


         "Orang sekarang sering menyebutkata inovasi, kreativitas dan sejenisnya dalam dunia bisnis, yang pada hakikatnya adalah hal - hal yang muncul dari keinginan terus belajar...."

        Ya, pelajaran - pelajaran yang bagus dari seorang pakar yang belajar dari ranah - ranah bisnis akar rumput. Sungguh menarik.
          Di rumah, bapak mendidikku dengan disiplin keras, seperti juga ibuku. Bukan hanya soal makan, tapi soal belajar dan bermain. Banyak orang mengecam keluargaku pelit, angkuh dan kurang bersahabat Karena orang tuaku tidak mengizinkan setiap temanku datang dan bermain di rumah kami yang luas, sebebas yang mereka mau. Hanya beberapa orang temanku yang diizinkan banyak mengunjungi rumah kami.
           
         Jangan salah paham. Bukan soal karena anak -anak itu dari keluarga miskin. Teman - teman karibku yang biasa bermain di rumah juga dari keluarga miskin sekali. Tapi, mereka mau mengikuti disiplin dalam rumahku. Itu bedanya.
          Banyak aturan di rumah kami. Aturan tidak menggunakan handuk milik siapa pun, selain milik sendiri. Aturan tidak mengotori rumah, tidak mengotori kamar mandi. Aturan bermain dengan tertib dan bergantian. Aturan tidak anyak mengobrol waktu makan meski ibu ku sendiri sering mengomeliku saat sedang makan. Dan, setumpuk aturan lain yang sering membuat jera kebanyakan teman - temanku.
           Bersambung....
 

               

0 comments:

Poskan Komentar