Studi Islam Al-Amin

Cerdas, Sholeh, Profesional

Rabu, 29 Februari 2012

Lima Peran Penulis Muslim

ADA lima peranan yang harus diemban oleh penulis muslim. Kelima peran ini awalnya disebut sebagai peran “Jurnalis Muslim” yang image-nya lebih dekat kepada pekerja media massa. Dalam tulisan ini bolehlah kita ambil kelima peran itu sebagai peranan yang harus dimainkan oleh seluruh penulis muslim.

1. Sebagai Pendidik (mu’addib)

Penulis muslim adalah pendidik, murobbi, ia menjalankan fungsi edukasi dalam Islam. Karena ia pendidikn, maka tentu ia harus lebih menguasai terlebih dahulu ajaran Islam dari perkara akidah, syariah hingga muamalah sebelum mentransformasikan ilmunya kepada masyarakat.
Sebagai pendidik penulis muslim menjalankan fungsi yang mulia. Oleh karen mendidik adalah pekerjaan yang membutuhkan kecermatan, strategi, kecerdasan tersendiri, dan kesabaran.
Kenapa kita harus menjadi pendidik? Jawabannya, marilah kita lihat bacaan remaja kita saat ini. Rata-rata dari mereka lebih senang membaca buku-buku yang sifatnya kurang bermanfaat bahkan menyimpang dari ajaran Islam, padahal mereka orang Islam dan penulis buku itu juga Islam. Sebagai pendidik, kita harus melihat potret yang tidak menyenangkan ini dengan menawarkan bacaan-bacaan yang edukatif, yang mendidik yang masuk dalam akal mereka.


2. Sebagai Pelurus Informasi (musaddid)

Kenapa harus diluruskan? Dari kalimat ini kita bisa mengambil kesimpulan: berarti ada yang bengkok. Apa saja variabel yang perlu kita luruskan sebagai seorang musaddid?
Setidaknya ada tiga hal yang harus diluruskan oleh penulis muslim: Pertama, informasi tentang ajaran dan umat Islam, Kedua, informasi tentang karya-karya atau prestasi umat Islam dan Ketiga, menggali kondisi umat Islam di berbagai penjuru dunia
Peranan sebagai musaddid sangatlah penting karena banyak informasi yang kita baca ternyata salah. Informasi ini dihembuskan oleh pada orientalis yang sengaja merusak citra Islam, anak-anak muda yang sedang “puber intelektual” atau orang-orang bodoh yang mengutip pendapat yang salah kemudian disampaikan kepada masyarakat.
Para penulis muslim yang profesinya sebagai musaddid cukup banyak di negeri kita. Prof.H.Muhammad Rasyidi misalkan, beliau dikenal sangat gencar dalam mengkritik pemikiran Cak Nur (Nurcholish Madjid) atau pemikiran yang akhir-akhir ini kita kenal dinamakan SEPILIS (Sekularisme—Pluralisme—Liberalisme). Hartono Ahmad Jaiz, Adian Husaini, Luthfi Bashori, Muhammad Amin Jamaluddin, Anis Malik Thoha, Daud Rasyid, Irfan S. Awwas, Fauzan Al-Anshari serta Muhammad Thalib adalah beberapa nama yang tulisan-tulisannya gencar “membabat” pemikiran kaum SEPILIS.
Seorang ustadz pernah berkata perihal bagaimana menghadapi pemikiran liberal, “Jika kaum SEPILIS menulis satu buku, maka kita harus menulis 10 buku untuk meng-counter tulisan itu!”
Penulis muslim, seyogyanya memang harus meluruskan informasi yang salah tentang Islam, baik yang datang dari orang Islam sendiri ataukah orang di luar Islam. Namun terkadang dalam beberapa kasus ada juga non muslim yang mengkritik pendapat yang disalahtafirkan di dunia barat. Karen Armstrong adalah satu dari kelompok itu. Dalam bukunya Islam: A Short History, Armstrong melancarkan kritikan kepada penulis barat yang tidak objektif,
”Di Barat, jumlah istri Muhammad seringkali dianggap sebagai kecabulan, tetapi merupakan suatu kesalahan jika membayangkan bahwa nabi bersenang-senang dalam gairah seksual, seperti beberapa pemimpin Islam selanjutnya. Di Mekkah, Muhammad masih monogami, hanya menikah dengan Khadijah, walaupun poligami sudah biasa di Arab. Khadijah jauh lebih tua, tetapi melahirkan setidaknya enam anaknya yang kemudian cuma empat anak perempuan yang bertahan hidup.”
Ini tulisan seorang non-muslim yang tahu sejarah. Dia saja yang bukan Islam bisa membela nabi, kenapa kita yang notabene agama Islam tidak meluruskan ajaran-ajaran nabi yang disalahtafsirkan?

3. Sebagai Pembaru (mujaddid)

Kenapa harus diperbarui? Itu karena ada pemikiran yang sudah tidak up to date, tidak pas lagi dengan kondisi saat ini atau telah keluar dari ajaran Islam. Seorang penulis yang mujaddid akan menyebarkan paham pembaharuan setelah menganalisis sejarah umat Islam dan ajarannya.
Maraknya bid’ah, khurafat, takhyul, penyembahan kuburan serta isme-isme menyimpang perlu disikapi oleh sang mujaddid. Kesemua hal itu terjadi adalah karena jauhnya umat dari ajaran Islam yang murni. Mereka telah tercemari dengan pemikiran di luar Islam yang sekilas rasional akan tetapi merusak sendi-sendi akidah umat Islam. Seorang mujaddid yang peduli harus menggerakkan jemarinya untuk mendakwahkan Islam dengan ajaran yang benar sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah.

4. Sebagai Pemersatu (muwahid)

Seorang penulis muslim sebisa mungkin menjadi pemersatu umat Islam. Bukan menyebabkan perpecahan umat dari tulisannya. Seorang ustadz ketika ditanya apa cita-citanya dalam perjuangan ini, ia menjawab, ”Saya ingin menyatukan umat Islam! Sampai kapan kita terus-terusan berpecah seperti ini...”
Untuk mempersatukan umat Islam, maka mutlak kita harus menguasai ilmu-ilmu syariah, serta ilmu-ilmu bantu lainnya. Seorang penulis yang mau menyatukan pemikiran dan hati umat ini juga harus banyak tahu tentang Islam dari sumbernya yang asli.
Dalam menuliskan idenya, seorang pemersatu juga tidak dibolehlah memaki-maki pendapat orang lain. Jika dia ingin mengkritik, maka harus dengan kritikan yang lembut, yang tidak menyakiti hati orang lain, dengan cara yang paling ahsan sebagaimana diajarkan Allah dalam al-Qur’an.


5. Sebagai Pejuang (mujaahid)

Mujahid yang bersenjatakan pena adalah pejuang yang membela Islam dalam karya-karyanya. Sang mujahid akan berusaha keras untuk membentuk opini publik yang konstruktif tentang Islam dan umat Islam. Jika selama ini syariah Islam hanya dipahami sebagai potong tangan, atau rajam maka pendapat itu perlu diluruskan. Tujuan dari adanya syariat Islam untuk kita semua memiliki fungsi untuk beberapa hal: menjaga agama (hifdzud diin), menjaga kehormatan (hifdzul ’irdl), menjaga jiwa (hifdzun nafs), menjaga harta (hifdzul maal), dan menjaga akal (hifdzul ’aql). Jadi, syariat itu hakikinya untuk kebaikan dan keselamatan kita semua...
Point kelima ini sebenarnya adalah kesimpulan dari seluruh tugas seorang penulis muslim. Ia harus menjadi mujahid yang bersungguh-sungguh berjuang untuk tegaknya kebenaran Islam!

1 comments:

Jauhnya diriku dr itu semua
 

Poskan Komentar