Studi Islam Al-Amin

Cerdas, Sholeh, Profesional

Selasa, 28 Februari 2012

Semangat dan Hikmah di Balik Senyuman

Langkahku kian cepat
Terdorong hembusan nan kuat
Angin kencang awali musim semi
Kikis sang bongkahan putih

Tak terasa tiga bulan telah kulalui di tanah Krakow, tempat Paus Paulus II lahir dan menghabiskan masa kecil. Pertama kali kami tiba, appartement yang disediakan kantor di Grodzka, sangat dekat dengan 'ruang kenangan' masa kecil Paus paulus II itu. Ramai wisatawan lokal dan asing, juga para rohaniawan gereja yang berkunjung ke sana. Karena wilayah ini adalah sentral buat turis, tidak ada yang memandang terlalu aneh dengan kain hijab yang kukenakan.Baguslah, pikirku, tidak enak menjadi bahan perhatian orang tentunya.

Namun itu tidak berlangsung lama, apalagi sejak kami harus pindah ke appartement di pinggir kota, harus membaur dengan warga lokal.
 Nyatanya, wajah asiaku tetap kentara walaupun mereka tidak melihat warna rambutku. Dan mulailah tatap keanehan makin menjadi kalau aku keluar rumah, mungkin mereka bingung, musim dingin hampir berakhir, kenapa kepalaku selalu tertutup rapat—serapat pakaianku, tidak ber-jeans seperti mereka, tidak mengetatkan belahan di dada seperti mereka.Akhirnya yang tadinya aku berjalan tegap dan bersemangat, perlahan mulai sering menunduk, akibat rasa malas saat dipandang aneh seperti itu.

Sungguh kangen dengan saudari-saudariku yang bersama-sama duduk dalam majelis ilmu, saling mengingatkan dan memacu semangat untuk maju. Sungguh rindu akan kebersamaan itu…
Oh Robbi, namun bukanlah muslimah sejati kalau aku tidak mensyukuri nikmatMU, bukanlah muslimah sejati jika aku tidak dapat mengambil hikmah, bukan muslimah sejati jika aku tidak paham akan skenarioMU yang paling indah.

Teringat pada surat CintaNYA, "wa qaala innanii minal muslimiin".
 Dia sedang menambah ujian padaku apakah tetap "sami’na wa atho’na" 
Bahwasanya aku bukan anak manja Ayah-Ibuku lagi, bukan sosok yang melulu minta dipeluk ibu dan kakak-kakakku…
bahwasanya aku adalah seorang Istri yang harus men-support Suami dimanapun dan kapanpun, dan harus selalu istiqomah dan bangga sebagai muslim dimanapun berada, kapanpun…

Seraya menjemur pakaian, kukenang peristiwa sebulan yang lalu. Kala aku pergi belanja dengan bad-mood akibat badai salju yang menerpa. Saat itu, suhu masih sangat extrim, beku semua masakanku, telur, susu dan jus juga membeku, minus dua puluh dua derajat celcius! Hidung dan pipiku bagaikan apel merah, juga pipi bayiku dan abangnya.Jika telinga tak ditutupi topi tebal, teling pun akan sangat merah, suhu dingin menusuk tulang.

Saat itu, kuusahakan bertahan jalan sekuat tenaga demi harus berbelanja bahan makanan. Kupikir, yakinlah, bahwa ujian para ummahatul mukminin zaman dulu jauh lebih berat dari ini, ujian para wanita sholihat di Palestina pun jauh lebih berat dari ini.Alhamdulillah respon otakku menghancurkan bad-mood itu, memasuki pusat perbelanjaan.

Aku tersenyum, ramah pada siapapun, walaupun banyak pengunjung yang membawa anjing (hewan yang tidak kusukai) berjalan-jalan di mall itu. Aku langsung memasuki wilayah tempat sayur-mayur dijual, bersama bayiku. Sedangkan Suami dan Si Abang menuju toko Boots, Abang perlu membeli sepatu boot, sepatunya yang lama kurang melindungi kaki di tengah salju.


Saat akan membeli makanan di tempat makanan beku, seseorang pelayan mencolekku, sambil berbisik “treść wieprzowych” (ada kadar babi di dalamnya). Segera kuurungkan membeli makanan itu. Ternyata di negara yang umat Muslimnya hanya nol koma sekian persen, ada juga orang yang tahu kalau daging babi haram bagi kita umat Muslim.

Pelayan itu mungkin berasal dari Gdanzk, tempat yang umat Muslimnya lumayan banyak, jadi dia pernah lihat orang berjilbab sepertiku, itu pemahaman bahasa Polandku yang masih belepotan saat bercakap dengannya.

Alhamdulillah, dengan menunjukkan identitas Muslimah, aku dan keluarga terhindar dari makanan haram. Terima kasih Ya Allah…
Setelah membeli sayur dan buah-buahan, jus, susu UHT serta biskuit bayi, dll (kecuali daging dan ayam, sebab di sini tidak ada daging Halal), segera kutelepon Suami untuk berjumpa di sudut mall.

Kutatap bayiku yang mulai menunjukkan keresahan karena ingin nenen, masih ASI pastinya! Waduh, tidak ada ruang menyusui nih. Sedikit panik, Aku menuju ke WC. Antrian panjang banget, bagaikan antrian formulir UMPTN zaman dulu. Wah, gimana nih, bayiku mulai menangis, nampaknya haus sekali. Terpaksa kubuka dada dengan ancang-ancang mau menyusui di ruang WC wanita, yang antriannya panjang itu. Kututupi dengan jilbab saat sang pangeran kecilku sudah mengecup asyik, mulai mendapatkan Haknya.

Eits, tiba-tiba penjaga WC (wanita) menghampiriku, dan bicara bahasa Poland, bla bla bla... aku bilang aja jawaban andalanku, “Nie rozomiem, I cannot understand popolski, sorry...” (tidak mengerti maksudnya) tapi aku pasang senyuman manis walau rada panik, takut bayiku terganggu.

Wanita itu membalas senyum lalu menggandeng tanganku, kuikuti dia sambil tetap menyusui, ternyata dia mengajakku ke WC khusus buat orang yang perlu bantuan (yang berkursi roda, sakit, dsb) biasanya WC khusus itu terkunci, dia bukakan dan mempersilakan aku masuk. Alhamdulillah rezeki. “Dzenky,” kataku. Setengah jam lumayan puas, bayiku bersendawa, lalu kami keluar WC, alhamdulillah. Ruang privasi untuk menyusui hari itu adalah rezeki yang sangat bernilai tinggi bagiku. Oh Allah, Engkau memang Maha Kasih dan selalu menjaga kami…

Kubaca SMS yang masuk melalui Iphoneku, Sholat dhuhamu nggak tinggalkan nak? Oh, Ibuku tersayang mengingatkanku, beliau pernah bilang bahwa dengan membiasakan diri sholat Dhuha dan Dzikrullah saat menyelesaikan aktivitas rumah tangga, Allah SWT akan memperluas rezekimu, rezeki atas persahabatan, banyak ilmu dan wawasan, insyaAllah.

Dua bulan di Krakow, satu pun belum pernah aku jumpai Muslimah. Suamiku sudah bertemu Muslim lain, sekitar 10-15 orang saat sholat Jumat, tapi rata-rata mereka adalah pelajar, jadi masih single, belum berjumpa dengan brothers yang membawa keluarga kesini, agar Istrinya bisa menjadi sohibku.

Sambil membalas SMS, Aku mencari tempat duduk—tempat suamiku menunggu. Lalu saat kami telah bertemu, kuceritakan sekilas kejadian indah tadi, lalu kami memasang perlengkapan Anak-anak kembali, mantel, sarung tangan tebal, selanjutnya berjalan menuju pintu keluar pertokoan. Aku berusaha tetap tersenyum tatkala ada anjing berkepang dua berlari ke arahku.

Dalam hati, "Idiiih majikannya menyebalkan, aku kan ngeri sama tuh anjing, waduh!"Untungnya Si Majikannya cepat berbalik arah, lega deh saat Si Kepang Dua itu ikut berbalik arah.
 Trap trap trap... kami berjalan cepat, beriringan.

Tiba-tiba seorang wanita menyapa, 
“Assalamalaykom yaa ukhtayya...” sambil menatapku mesra.

“Waalaykumussalam warohmatullahi wabarokatuuh...” 
spontan jawabku, lama tak mendengar salam itu dari mulut orang lain selain kami sekeluarga.


“You are Mooslemah, right?” to the point dia.
 “Yes, exactly! And you sister?”seterusnya mengalir percakapan kami.

Kami berkenalan, berpelukan bagaikan telah bersahabat sejak lama, dia bernama Umm Al-Hakam, hanya 5 menit kami bercakap sambil berdiri. Anakku sudah sangat lelah, sehingga undangan “nge-teh bareng”-nya harus kutolak. Lima menit bercakap, tapi menciptakan sejuta pelangi di hatiku, penghibur jiwa sepiku.

Umm Hakam adalah wanita Syria yang sudah 20 tahun menetap di kota Rabka, 2 jam perjalanan dari tempatku. Beliau memberikan pujian yang mendalam dengan tulus atas jilbab yang kukenakan, sementara bertahun-tahun jarang sekali ia melihat Muslimah muncul di tanah Krakow ini.

“Sister, you are very beautiful, like an angel…Believe me. I am proud of you, sister…”Ah pasti pipiku merah.
 Umm Al Hakam adalah seorang dokter yang masih melanjutkan kuliah, namun dia berkata, “But everyday I am at home, Because I have children. My husband ask me to always stand by at home, hahaha.”

Subhanallah! Maha Suci Allah yang telah mempertemukanku dengan saudari yang cerdas ini, yang hanya beberapa menit berjumpa—namun kata-kata motivasinya sungguh menggetarkan jiwa. Beliau lancar bahasa Arab (bahasa aslinya), Inggris, Jerman, Poland, dan beberapa bahasa lain.

Perjumpaan yang telah diaturNya, apalagi saat kutau alasan Umm Hakam menyapaku, karena senyuman. Beliau bilang, kalau kamu tidak senyum, aku takut dan ragu menyapamu, karena rata-rata “Nuns” disini berpakaian seperti Muslimah, tapi mimik muka jarang tersenyum.Subhanallah… senyum itu membawa hikmah besar ternyata…
Lima menit percakapan kami, banyak hal urgent yang kudapatkan, wawasan dan ilmu dalam kalimat Umm Al Hakam.

Aku jadi teringat SMS sahabatku, “Ri sayang... Persahabatan/ukhuwah sejati adalah hal terindah setelah kita menjadi seorang Muslim/ah”.

Saudara-saudariku, hari ini kita merugi jika wajah cemberut berlama-lama, kusut masai."Tabassumuka fii wajhi akhiika shadaqatun (Senyummu untuk saudaramu adalah shadaqah)" (HR. Bukhari)

Sambutlah harimu dengan senyuman, menegur diriku sendiri, bukankah Allah SWT telah melimpahkan segala nikmat kepadaku, termasuk kenikmatan memijakkan kaki ke sudut bumi krakow ini? Ya Allah, Ampuni hamba, Ya Robb... sekarang hamba makin yakin bahwa keberadaanku disini pasti ada hikmah, diawali dengan persaudaraan bersama Umm Al Hakam yang hingga kini makin rajin meneleponku walau kadang hanya menanyakan kabar, tidak pantas aku menunduk malu hanya gara-gara tidak mau dipandang 'aneh', seharusnya aku tetap istiqomah dan bangga sebagai muslimah, sebab Allah SWT pasti melimpahkan Penjagaan terbaikNYA sepanjang waktu, kunantikan selalu didikanMu dalam jalani hidup ini, masih panjang skenarioMu.

Segumpal awan berarak rapi
Mempercantik langitMu nan biru
Dalam sujud dan obrolan pada ILahi
Kutitipkan jeritan nurani
Salam rindu untukmu Saudaraku...
Senyummu bahasa kalbu

0 comments:

Poskan Komentar