Studi Islam Al-Amin

Cerdas, Sholeh, Profesional

Senin, 05 Maret 2012

Idola Turunan vs Idola Utama

Demam K-Pop mewabah di seantero dunia, termasuk Indonesia. Jutaan remaja putri, bahkan putra, menggilainya dan menghabiskan sebagian besar waktu serta ruang pikirnya untuk mengikuti perkembangan terbaru dari arus kebudayaan pop korea tersebut. Mulai dari menonton drama di TV dan DVD, mendownload lagu boyband dan girlband di internet, mengikuti gaya berpakaiannya, hingga (yang sedikit lebih intelek) membaca buku tentang artis idola mereka. Dari keseluruhan arus itu, para remaja (khususnya remaja putri) biasanya memilih satu atau lebih artis yang mereka paling ikuti perkembangannya. Kita biasanya menyebutnya sebagai idola.

Jauh sebelum itu, para remaja putra sudah terlebih dahulu menjadikan atlet sebagai idola, khususnya atlet sepakbola. Mereka adalah sosok yang biasanya mengisi tembok kamar, tontonan malam yang membuat begadang, bahan utama dalam obrolan, situs pertama yang dibuka saat online, hingga minat utama yang mengisi lebih dari separuh ruang pikir. Ya! Bagi para remaja itu mereka adalah idola. Meskipun ketika ditanya apa saja yang dapat mereka ambil dari idola mereka tersebut? Mungkin tak banyak jawaban yang akan hadir. Bahkan mungkin, jawabannya begitu simpel: hanya sekadar suka saja. Tak lebih.

Industri Para Idola

Arus modernitas yang berasal dari barat itu membawa banyak hal. Salah satunya adalah industrialisasi. Sebuh proses produksi dengan prinsip efisiensi yang ditopang oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini membuat jumlah produksi semakin banyak dengan jangka waktu yang semakin cepat. Industrialisasi ini menyebar ke berbagai sektor kehidupan, termasuk di sektor-sektor yang banyak memproduksi para idola, seperti seni dan olahraga. Istilah memproduksi saya gunakan karena para idola itu sebenarnya tidak bisa menjadi idola tanpa adanya dukungan lingkungan terhadapnya. Dahulu kala, bentuk dukungan itu disampaikan secara konvensional lewat lisan dan tulisan. Namun kini, dengan bantuan media massa yang audio-visual, ruang untuk menjadi idola itu pun semakin terbuka terbuka. Siapa saja bisa menjadi idola, tentunya dengan kriteria yang ditetapkan oleh produsen para idola. Produsen itu tentu saja para pemilik modal. Mereka yang sebenarnya menjadikan para idola ini sebagai salah satu komoditas bisnis mereka dan agen promosi kriteria modern seorang idola.

Artinya, selain mendapat keuntungan, mereka pun, secara langsung maupun tidak, mempromosikan kepada masyarakat umum yang di Indonesia mayoritasnya muslim bahwa begini loh sebenarnya yang disebut idola. Mereka harus berpenampilan menarik (baca: memamerkan aurat), pandai berbicara di depan umum (walau seringkali pembicaraannya tak bermutu), jago bermain sepakbola (walau berzina adalah kesehariannya). Masyarakat kita dipaksa untuk mengidolai sosok yang sebenarnya hanya sedikit dari karakter dirinya yang pantas untuk ditiru.

Benarkah Kita Mengidolakan Rasulullah saw?

Meskipun industri para idola terus melaju, tak sedikit pihak yang melakukan perlawanan atas arus tersebut. Artinya, tidak semua orang mau begitu saja menerima apa yang disuguhkan oleh media massa dan perangkat-perangkat pendukung industri idola lainnya. Salah satu pihak yang melakukan perlawanan tersebut adalah kalangan santri, khususnya di perkotaan yang merasakan arus ini lebih deras dibanding di pedesaan. Masalahnya, santri perkotaan ini biasanya adalah remaja-remaja yang baru saja tercelup oleh nilai-nilai Islam. Mereka hanya mendapatkan pemahaman Islam lewat halaqoh pekanan, kajian-kajian keilmuan, maupun bacaan dari buku maupun internet. Yang baru tumbuh dengan baik adalah komitmen mereka untuk terus mempelajari Islam sambil mempraktekkan dan mendakwahkannya secara bertahap.

Masalah ini berdampak pada keber-Islam-an mereka yang biasanya masih bersifat simbolik. Salah satu bentuknya adalah ketika mereka ditanyakan siapa idola mereka, misalnya dalam acara perkenalan maupun dalam biodata mereka. Biasanya mereka akan mengatakan maupun menuliskan: Rasulullah saw, nabi terakhir yang diutus oleh Allah untuk menyempurnakan Syariat-Nya di dunia dan memang diakui sebagai manusia terbaik, bahkan oleh kalangan non-muslim seperti Michael Hart. Akan tetapi, ketika coba ditanya. Sudahkah membaca sirah nabawiyah? Seberapa seringkah membaca dan mengkaji hadis beliau? Berapakah sunnah beliau yang sudah dipraktekkan? Sebelum mendengar jawabannya, bersiaplah untuk kecewa.

Bahkan mungkin saja, mereka yang mengaku anak rohis atau aktivis dakwah itu pun juga mengidolakan artis korea atau atlet sepakbola. Meski mereka tidak mengakuinya, tetapi jika ternyata ruang pikir mereka lebih banyak untuk itu, apa mau dikata, fakta yang berbicara. Agak miris ketika ada yang mengaku mengidolakan Rasulullah saw, tetapi lebih mudah terbangun di malam hari karena pertandingan Barcelona vs Real Madrid, daripada karena ingin sholat malam.

Jebakan Penghambaan Idola

Salah satu jebakan yang harus diwaspadai dalam relasi antara idola dan penggemar adalah jebakan penghambaan. Istilah penghambaan mungkin terdengar agak berlebihan bagi sebagian orang, tetapi jika para penggemar telah sampai pada tahap mau melakukan apa saja demi idola mereka hingga melewati logika rasional dan koridor Syariat Islam, di sanalah letak jebakan penghambaan itu. Prinsip asasi pertama dalam ajaran Islam adalah agar setiap manusia hanya menghambakan dirinya pada Allah SWT saja.

Lalu bagaimana agar kita terhindar dari jebakan penghambaan kepada selain Allah SWT? Itulah mengapa ada prinsip asasi kedua, yakni agar setiap manusia mengikuti tata cara penghambaan kepada Allah SWT dari Rasulullah saw. Manusia terbaik yang ma’sum atau dijamin pasti benar semua perkataan dan perbuatannya. Hal ini membuat beliau adalah satu-satunya manusia yang paling aman untuk dijadikan idola. Karena tidak ada satu pun bagian dari karakter dirinya yang mengandung jebakan untuk pengambaan lain selain Allah SWT. Semuanya baik, semuanya benar. Adakah yang lebih aman dan lebih pantas untuk diidolakan selain beliau.

Namun, yang perlu digarisbawahi, kedua prinsip asasi tersebut fungsinya adalah sebagai landasan dan koridor. Jadi, kedua prinsip asasi ini sebenarnya tidak melarang kita untuk mengidolakan sosok lain. Asal kriteria idola kita tersebut adalah sosok yang cukup aman dan patut ditiru, serta tidak keluar dari koridor syariat. Tentu saja, hal ini membawa konsekuensi bahwa pengidolaan kita terhadap sosok lain haruslah merupakan turunan atas pengidolaan kita terhadap Rasulullah saw.

Maka pertanyaan reflektifnya begini: Siapa yang seharusnya lebih banyak mengisi ruang pikir kita? Menjadi acuan bertindak kita? Menjadi minat utama dan obrolan keseharian kita? Idola Turunan atau Idola Utama?

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al Ahzab:21)
Wallauhu A’lam bis Showab

sumber : http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/muhammad-alfisyahrin-mahasiswa-ui-idola-turunan-vs-idola-utama.htm

0 comments:

Poskan Komentar